Semua terjadi di pom bensin. Awalnya
aku, dan ketiga sahabatku –Sri, Yuni, dan Wiwik- akan makan siang di luar
sekolah hari ini. Setelah bel pulang sekolah berbunyi, aku menemui Ari –ketua
kelasku (sekaligus orang pintar nomor satu di kelasku)- untuk meminta diajari
bagaimana memecahkan soal kimia yang diberikan oleh guruku. Pelajarannya memang
sedikit rumit, menyetarakan persamaan kimia dengan metode setengah reaksi.
Entahlah, aku pikir aku bisa mengerjakannya sendiri. Buktinya aku bisa
menyelesaikan soal yang diberikan kepada temanku, Selvi. Semua siswa
mendapatkan soal yang berbeda. Dan entah mengapa, aku tidak bisa mengerjakan
soal yang diberikan guruku kepadaku. Dan aku pun harus bergabung bersama teman-temanku
yang telah antri untuk diajarkan kimia oleh Ari.
Semakin lama, aku merasa bosan untuk
menunggu. Tinggal dua orang lagi, baru giliranku. Tapi, aku pun memutuskan
untuk meminta diajari besok. Karena aku sudah ada janji untuk makan bersama
ketiga sahabatku. Mereka sudah menungguku. Lalu aku meninggalkan Ari bersama
dua temanku yang sedang diajarinya memecahkan soal kimia. Aku pikir, tak akan
jadi masalah jika besok aku baru meminta untuk diajarkan soal kimia.
Aku dan Yuni berjalan menyusuri
teras kelas-kleas.kami mencari Sri dan Wiwik. Kami pun bertemu Wiwik dan Sri
yang ternyata sudah menunggu kami. Lalu Yuni dan Sri berjalan ke parkiran untuk
mengambil motor mereka, sementara aku dan Wiwik berjalan kea rah gerbang
sekolah untuk menunggu mereka. Setelah mereka tiba, kami langsung menaiki
motor, aku bersama Sri, dan Wiwik bersama Yuni. Kami pun pergi berbarengan.
Cuaca hari ini cerah, tidak seperti
hari-hari kemarin yang diselimuti awan mendung. Aku melihat bekas lahan-lahan
yang kosong yang sengaja dibakar. Entah apa yang dipikirkan pemerintah, tapi
sepertinya tempat ini akan menjadi semakin panas karena rencana pembangunan
gedung-gedung di lahan-lahan kosong itu. Sekolahku memang terletak di pinggir
kota yang memang masih sangant banyak lahan kosong. Tapi aku yakin, dalam dua
atau tiga tahun kedepan, mungkin daerah ini akan menjadi pusat kota. Bagaimana
tidak, sekolahku berada di daerah pusat pelaksanaan Sea Games 2011, Jakabaring,
Palembang. Sudah banyak gedung-gedung yang dibangun pemerintah guna sarana dan
prasarana Sea Games akan datang.
Kami pun melewati pom bensin yang
tak jauh dari gerbang perumahan OPI. Entah mengapa, Sri seperti ingin mengisi
minyak taoi tak dilakukannya. Aku merasakan keraguannya itu. Dari caranya
membawa motor dengan perlahan penuh dengan keraguan. Sperti hendak berbelok
masuk pom bensin tapi bersikeras untuk melanjutkan perjalanan kami. Aku hanya
diam saja. Aku pikir, mungkin Cuma perasaanku saja yang mereka-reka
keraguannya.
Kami pun tiba di lampu merah. Tujuan
utama kami Plaju, untuk menitipkan motor Sri di rumah Yuni, setelah itu baru
kami akan pergi makan di PS Mall. Tapi tiba-tiba motor Sri mati. Kami pun panik
karena lampu sudah hijau.
“Sar, kyaknya bensinnya habis.”,
kata Sri panik. Aku yang kebingungan pun langsung menyuruhnya untuk menepi ke
pinggir jalan. Aku menoleh kea rah belakang, mencari Yuni dan Wiwik. Tapi yang
ku lihat mobil polisi yang melaju ke arah kami.
“Duhh. . . ada polisi lagi.”,
keluhku bertambah bingung. Tapi ternyata polisi itu hanya lewat di depan kami.
“Kita menepi ke arah sana aja
yukk.”, ajak Sri. Kami pun menyeberangkan motor kami ke sisi jalan sebelah
kiri. Lalu kami memarkirkannya.
“Yuni sama Wiwik mana?”, tanyaku.
“Mereka sudah duluan.”, jawab Sri
cepat.
“Sar, sms mereka.”, pinta Sri padaku.
Aku pun langsung mengambil handphoneku yang ada di dalam saku baju sekolah.
Segera saja aku meng-sms Wiwik.
Wik,
kmi di Palapa.
Bensin
kmi hbis.
Tlong
beliin bensin, terus anterin kesini.
Pliss.
Received:
Wiwik
Date:
13 Okt 11
Setelah menunggu lama, aku pun
merasakan handphoneku berhgetar di dalam saku bajuku. Aku langsung membaca sms
balasan dari Wiwik.
Nah,
aku sdah di Halte.
Yuni
lagi di jalan ke rumahnya.
Jadi
gimana?
Sender:
Wiwik
Date:
13 Okt 11
“Duh gimana nih ri’?”, tanyaku pada
Sri.
“Sms Yuni.”, ususl Sri.
“Pulsaku habis”, jawabku cepat.
“Pulsaku habis juga.”, kata Sri.
Kami pun terdiam.
“Sar, kmu tunggu sini, ntar aku ke
konter buat beli pulsa.”, kata Sri.
“Aku aja yang beli pulsa.”, usulku.
“Okelah.”, jawab Sri. Aku pun
menyeberangi jalan untuk mencari konter. Belum lama aku berjalan aku pun
menemukan konter yang ada di pinggir jalan itu.
“Mbak, ada pulsa 3?”, tanyaku.
“Gak ada dek.”, jawab si Mbak. Aku
pun segera meninggalkan konter itu dan segera mencari konter lainnya. Huft, aku
sedikit merasa lelah. Aku pun membeli pulsa di konter yang aku temukan
selanjutnya, lalu aku segera kembali.
Setelah mengisi pulsa, Sri pun
segera meng-sms Yuni untuk meminta dibelikan bensin. Tapi ternyata Yuni juga
sudah berada di halte. Mereka menyarankan agar kami membeli bensin dengan
menggunakan kantung. Mereka pikir, dengan begitu kami tidak usah susah payah
mendorong motor ke pom bensin. Setelah berpikir lama, aku dan Sri pun
memutuskan untuk membeli bensin dengan menggunakan kantung. Kami membeli
kantung ukuran 1kg untuk membeli bensin tadi. Kami menempuh jarak kurang lebih
satu kilometer untuk sampai di pom bensin dengan berjalan kaki. Aku sungguh
merasa senang karena perjalanan kami tidak terasa begitu lama. Kami sudah
sampai. Kami berjalan mendekati tempat pengisian bensin. Awalnya aku ragu. Tapi
setelah melihat pom bensin itu agak sepi, aku langsung saja mendekati pegawai
itu dengan rasa percaya diri.
“Mas, boleh isi bensin pake
kantung?”, tanyaku polos dengan senyum merekah. Ya, sebenarnya senyum itu lebih
tepat jika disebut senyum malu. Karena memang sebenarnya aku sungguh merasa
malu. Tapi, untuk saat ini, rasa malu itu harus aku buang jauh-jauh demin
bensin satu liter yang akan kami beli.
“Gak bisa, udah peraturan.”,
jawabnya dingin yang lalu sibuk dengan pekerjaanya dan tidak mempedulikan
keadaan kami. Aku pun langsung bergerak mundur. Aku kesal. Aku lelah. Dan aku
pun terduduk tak jauh dari tempat pengisian bensin itu.
“Hmm, gimana?”, tanyaku pasrah pada
Sri.
“Berarti kita terpaksa mengambil
motor dulu.”, jawab Sri juga merasa kesal.
“Aku capek. Udah jauh-jauh kesini.”,
rajukku.
“Ya mau gimana lagi?”, tanya Sri.
Aku pun menyeret kakiku keluar dari pom bensin itu. Rasanya aku ingin marah.
Alangkah teganya pegawai itu membiarkan kami seperti ini. Apa yang ada
dipikarannya? Apa dia pikir kami ini adalah penjual bensin eceran yang ada di
pinggir-pinggir jalan itu? Kami ini pelajar! Tidakkah dia lihat seragam
kebanggan yang kami pakai? Dasar tak punya hati!
Air mataku pun tertetes. Aku menyimpan
amarah di dalam hatiku yang membuat kepalaku terasa pusing hingga ku teteskan
air mata ini. Kami pun menyetop angkutan umum dan kembali mengambil motor kami.
Setelah membayar uang parker. Aku dan Sri langsung mendorong motor itu. Tapi
entah mengapa, aku merasa bahagia. Aku melakuakan sesuatu yang belum pernah aku
lakuakan. Ya, baru kali ini aku mendorong motor yang kehabisan bensin. Dan
rasanya asik sekali. aku mendorong motor itu dengan rasa senang. Sebuah senyum
terukir di bibrku. Aku pikir, kapan lagi aku bisa seperti ini? Mungkin suatu
saat nanti aku tak akan mendorong motor karena telah meiliki sebuah mobil. Maka
dari itu aku sangat menikmati ini.
Baru seperempat jalan, Sri sudah
merasa kelelahan, karena mendorong motor itu, sementara aku hanya membantu di
belakangnya, mendorong bodi motor dari arah belakang. Kami pun bergantian.
Entah mengapa, aku merasa geli. Beberapa menit yang lali kami melewati jalan
ini dengan membawa kantung dan berharap kantung itu bisa terisi penuh oleh
bensin. Tapi, saat ini kami melewati jalan ini untuk kedua kalinya dengan
mendorong motor. Banyak orang-orang yang memperhatikan kami. Sebagian ada yang
menggoda kami. Sebagian lagi mungkin merasa iba. Hahaha, wajar saja jika mereka
merasa iba pada cewek cantik yang sedang mendorong motor ini.
Kami pun tiba di pom bensin yang
beberapa menit lalu kami datangi. Cuma bedanya, kali ini kami membawa motor,
bukan kantung kosong!
“Sar, jangan di tempat ma situ ya.”,
kata Sri.
“Aku juga gak mau ngisi di tempat ma
situ.”, jawabku karena kekesalan tadi.
“Kalau saja ada pombensin lain yang
tak jauh dari sini, maka aku akan mengisi bensin disana.”, kata Sri emosi.
Aku hanya diam, aku mengantri di
bagian pengisian bensin di sebelah tempat ma situ menjaga. Tapi aku berubah
pikiran. Aku langsung mengantri di tempat ma situ menjaga bensinnya.
“Biarlah rR’ kita disini.”, kataku.
“Kenapa?”, tanya Sri bingung. Aku
tidak menjawab pertanyaan Sri. Lihat saja ma situ. Aku akan segera membalasnya.
Giliran kami pun tiba. Aku langsung
memarkirkan motor itu tepat dihadapan mas itu. Aku langsung membuka tutup
tangki dan berbalik menghadap ke arahnya.
“Full tank!”, kataku dingin. Dia
mengeryitkan keningnya. Sepertinya dia ingin memberikan senyum padaku, tapi aku
langsung bersikap dingin dan membuang mukaku. Aku tau, dia merasa tak enak
hati. Aku merasakan apa yang dia rasakan sekarang. Terlihat jelas dari caranya
yang mengisi tangki minyak motor kami.
Lalu
aku menyodorkan uang seratus ribu itu ke hadapannya. Uang itu tidak aku
genggam, hanya aku jepit dengan menggunakan jari telunjuk dan jari tengahku.
Setelah dia selesai mengisi minyak kami. Dia pun mengambil uang yang ada di
tanganku dan sepertinya dia melirikku. Tapi aku lagi-lagi bersikap cuek sambil
sibek menutup tangki motor kami. Aku pun menaiki motorku, lalu mengambil uang
kembalianku tanpa mengucapkan terima kasih sedikitpu. Lalu dengan sinis aku
menjalankan motor kami. Hahaha, sungguh aku merasa puas sekarang. Maaf, kali
ini aku harus menggunakan kesombonganku. Aku pikir, dia pantas menerima balasan
itu karena perlakuannya padaku tadi. Sekarang aku merasa benar-benar senang.
Dan kami pun segera menuju ke halte, ke tempat Wiwik dan Yuni menunggu.
********
Tidak ada komentar:
Posting Komentar