Aku melangkah dengan senyum termanisku, ku pandangi sekelilingku, ramai, orang-orang sibuk mencari kelas mereka masing-masing. Kulihat di tengah lapangan sana, anak-anak kelas sepuluh sedang apel mendengarkan pengarahan dari Pak Iskandar, Wakil Humas sekolah kami. Awalnya aku telah memikirkan bangku strategis yang akan aku tempati, bangku nomor 2, di barisan nomor 2 dari pintu. Tapi, bukan berarti aku suka nomor 2, aku hanya berpikir mungkin aku akan senang jika duduk di posisi itu. Bersama Sri, aku berjalan menyusuri koridor menuju Hall sekolah. Disana, orang-orang sudah hadir untuk menyesaki mading, melihat di kelas mana mereka akn tinggal selama sati tahun. Aku segera mencoba menerobos kerumunan orang-orang itu. Dengan jari telunjukku, ku sapu semua nama-nama yang tertera di mading itu. XI IPA 1. . . ah tidak ada. Aku meneruskan pencarianku ke kelas XI IPA 2. . . Rini Sartika. . . Sari Pramesela. . . Sartini Nuha Afifah. Yap, ini dia namaku. Aku akan tinggal di kelas XI IPA 2.
“Perhatian, bagi seluruh siswa kelas sebelas dan dua belas, harap segera membentuk barisan apel sekarang. Sekali lagi, bagi seluruh siswa kelas sebelas dan duabelas, harap segera membentuk barisan apel sekarang. Terima Kasih.”, ucap salah satu guru melalui mic sekolah yang suaranya terdengar ke seluruh penjuru sekolah. Aku segera menuju lapangan dan membentuk barisan apel sesuai kelas yang telah ditentukan. Disana aku melihat wajah-wajah baru. Wajah-wajah asing yang belum pernah aku lihat. Ya, aku memang belum mengenal mereka seluruhnya. Hanya ada segerintil teman-teman yang ku kenal disitu.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.”, salam Pak Iskandar yang terdengar tegas dan berwibawa.
“Walaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh.”, jawab kami serentak.
“Alhamdulillahirobbil alamin, asholatu wassalamu ala asrofil anbiya iwalmursalin, wa’ala alihi washobbihi ajma’in. Apa kabar anakku semuanya?”, tanya Pak Iskandar.
“Alhamdulillah. . .”, kami mengepalkan tangan kanan kami ke dada kiri. “Luar biasa. . .”, kami memukul pelan dada kiri kami satu kali. “Allahu Akbar!”, kami mengangkat kepalan tangan kami ke atas bagaikan menonton pertandingan sepak bola dari tim favorit yang sedang mencetak goal pertama.
“Alhamdulliah, puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena pada pagi yang cerah ini, kita masih diberikan kesempatan untuk dapat terus menghirup udara segar yang diberikan secara cuma-cuma ini. Shalawat bertangkaikan salam semoga selalu tercurahkan kepada suri tauladan kita, Nabi besar Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan kita sebagai pengikutnya yang insya Allah terus istiqamah di jalan-Nya hingga akhir zaman. Amin.”
“Anak-anakku yang selalu bapak banggakan, Bapak akan memberikan sedikit pen garahan mengenai pembagian kelas ini.”, sambung Pak Iskandar. Hmm, jujur saja kawan, baru selesai pembukaan, aku sudah merasa bosan untuk berdiri di lapangan ini. Aku pun mencoba memainkan genangan air yang ada di ujung kakiku. Ku hentakkan genangan air itu dengan pelan, tapi tetap saja menimbulakan percikan kesana dan kemari.
“Sar!”, tegur Wiwik sambil mengernyitkan kening karena ulahku yang membuat roknya sedikit basah. Aku pun tersenyum nakal dan mengenghentikan kakiku. Aku kembali menyimak pembicaraan Pak Iskandar.
“Nah, di ujung sana itu kelas XII IPA 2, di sebelah kirinya adalah kelas XII IPA 3. . .”, kata Pak Iskandar menjelaskan. Kami semua menoleh ke belakang, mengikuti arah telunjuk Pak Iskandar.
“Lalu itu kelas XI IPA 1, XI IPA 2 di ujung koridor, kelas XI IPA 3 berada si sebelahnya, lalu kelas XI IPS 1 dan XI IPS 2 disebelahnya lagi. . .”, sambung Pak Iskandar sambil terus menunjuk ke arah kelas-kelas yang beliau sebutkan. Ah, menyusahkan saja. Kenapa nama-nama kelas tidak ditulis di kertas selembar saja, lalu di tempelkan pada masing-masing kelas sesuai yang sudah ditentukan? Bukankah itu tidak merepotkan dan lebih efektif?
“Dan yang terakhir, kelas XII IPA 1.”, kata Pak Iskandar yang dari tadi mengarahkan. Kami semua menoleh ke arah kiri, masih mengikuti arah jari telunjuk beliau. Aku benar-benar merasa bosan sekarang. Setelah Pak Iskandar menutup pengarahannya, kami segera berhamburan ke kelas masing-masing.
Aku berjalan ke arah kelas yang sudah di tunjuk Pak Iskandar tadi, XI IPA 2, di ujung koridor. Setelah sampai, aku terkejut melihat kelas yang akan kami tinggali selama satu tahun ke depan. Hah? Bukankah ini bekas ruang guru?. Aku menggeleng-gelengkan kepala. Ruang itu masih terkunci rapat. Ku pandangi teras ruangan itu, kotor dan berantakan. Meja dan kursi ada dimana-mana. Buku-buku berhamburan. Aku mencoba menarik nafas. Aku pun berjalan ke arah jendela “kelas” –jika ini pantas disebut sebuah kelas-, ku intip bagian dalamnya. Astaghfirullah, lebih parah dari yang aku duga, lebih kotor dan lebih berantakan. Apa-apaan ini? Kenapa kami harus dapat ruang ini?. Aku menoleh ke arah kanan, ku lihat disana, Ibu Radiana datang membawa sebuah kunci, bak pahlawan yang akan menyelamatkan kekelaman hidup kami, beliau mulai membuka pintu.
“Nah, ini kelas kalian, jadi kalian harus membersihkannya. Meja-meja itu kalian angkat saja keluar kelas, lalu kalian sapu lantainya dan pel sekalian!”, perintah Ibu Radiana. Aku yang tak bersemangat pun menyeret kakiku untuk masuk ke dalam kelas. Satu per satu, teman-temanku pun mulai ikut masuk. Tapi, belum lama aku berada di kelas itu, nafasku sesak. Kelas ini benar-benar berdebu, aku butuh oksigen. Aku pun langsung keluar kelas, mencari udara segar. Aku memakai dasi pramuka untuk menutup hidungku –entah milik siapa yang aku pakai saat itu-, lalu aku pun kembali masuk ke dalam kelas.
Kami mulai mengangkat meja dan barang-barang yang tidak berguna ke luar kelas. Mulai dari buku-buku yang entah milik siapa, sampai ke meja-meja yang ada disana. Kami pun mulai menyapu dan mengepel ruangan sehingga lantainya terlihat sedikit lebih mengkilap. Ruangan ini akan menjadi kelas yang aneh jika digunakan untuk belajar, karena di ujung sana, ada dua ruangan kecil yang tak lain adalah WC. Tapi, kehadiran WC itu bukan saja menjadikan kelas kami kelas yang aneh, kelas kami juga terlihat elit karena punya WC pribadi. Dan lebih elit lagi, kelas kami punya banyak stopkontak yang tentunya kelas lain tak punya.
Aku mulai merasa lelah karena mengepel ruangan ini sendirian. Aku kesal. Seharusnya sekolah menyediakan ruang belajar untuk kami, bukan kami yang mengurus sendiri. Sekolah mana yang menyusahkan muridnya seperti ini kalau bukan sekolah kami. Tapi kawan, disinilah yang aku sukai, kelas XI IPA 2 benar-benar dimulai dari nol, bukan seperti kelas-kelas instan lainya.
Kami mulai mencari meja dan kursi untuk kami belajar. Kami pun menyusunnya hingga ruangan ini lebih layak disebut sebagai ruang kelas. Alhasil, ruang yang tadinya sangat tak lazim untuk di pandang sebagai kelas, kami sulap sedemikian rupa hingga menjadi layak untuk ditempati. Walau aku gagal mendapatkan bangku impianku seperti yang aku bayangkan pada awalanya, tak jadi masalah bagiku mendapatkan bangku nomor tiga pada baris ketiga dari pintu. Aku duduk sebangku dengan Sri, teman sekelasku di kelas X. Wiwik dan Tiara duduk di depan kami. Setelah kami semua masuk kelas, ku pandangi lagi teman-teman sekelasku. Aku pun sadar, jumlah laki-laki di kelasku hanya 8 orang dari 36 siswa. Aku menggeleng-gelengkan kepala. Dunia benar-benar akan kiamat, jumlah laki2 dan perempuan sudah tak imbang.
Dan kawan, disinilah, di XI IPA 2 yang akhirnya aku beri nama ‘d.faondsel’ (the family of second sains eleven), aku belajar banyak tentang kehidupan. Aku belajar sebuah ketegaran dan keteguhan hati, aku juga belajar membuang rasa egois, aku belajar untuk mengerti satu sama lain, aku mempelajari arti sebuah persahabatan, dan aku juga belajar bahwa cinta tak hanya tersirat pada kisah dua insane manusia. Kawan, di d.faondsel, aku menemukan inspirasiku, dan disinilah aku berani untuk bermimpi. Ingin ku ceritakan semua padamu apa yg telah terjadi di d.faondsel. Tapi ini hanyalah sebuah cerpen yang hanya mengetengahkan satu permasalahan. Ini hanyalah sebagian kisah hidupku yang ingin kuceritakan pada dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar