Kamis, 27 Oktober 2011

Maaf, Kali Ini Harus Kugunakan Kesombonganku




            Semua terjadi di pom bensin. Awalnya aku, dan ketiga sahabatku –Sri, Yuni, dan Wiwik- akan makan siang di luar sekolah hari ini. Setelah bel pulang sekolah berbunyi, aku menemui Ari –ketua kelasku (sekaligus orang pintar nomor satu di kelasku)- untuk meminta diajari bagaimana memecahkan soal kimia yang diberikan oleh guruku. Pelajarannya memang sedikit rumit, menyetarakan persamaan kimia dengan metode setengah reaksi. Entahlah, aku pikir aku bisa mengerjakannya sendiri. Buktinya aku bisa menyelesaikan soal yang diberikan kepada temanku, Selvi. Semua siswa mendapatkan soal yang berbeda. Dan entah mengapa, aku tidak bisa mengerjakan soal yang diberikan guruku kepadaku. Dan aku pun harus bergabung bersama teman-temanku yang telah antri untuk diajarkan kimia oleh Ari.
            Semakin lama, aku merasa bosan untuk menunggu. Tinggal dua orang lagi, baru giliranku. Tapi, aku pun memutuskan untuk meminta diajari besok. Karena aku sudah ada janji untuk makan bersama ketiga sahabatku. Mereka sudah menungguku. Lalu aku meninggalkan Ari bersama dua temanku yang sedang diajarinya memecahkan soal kimia. Aku pikir, tak akan jadi masalah jika besok aku baru meminta untuk diajarkan soal kimia.
            Aku dan Yuni berjalan menyusuri teras kelas-kleas.kami mencari Sri dan Wiwik. Kami pun bertemu Wiwik dan Sri yang ternyata sudah menunggu kami. Lalu Yuni dan Sri berjalan ke parkiran untuk mengambil motor mereka, sementara aku dan Wiwik berjalan kea rah gerbang sekolah untuk menunggu mereka. Setelah mereka tiba, kami langsung menaiki motor, aku bersama Sri, dan Wiwik bersama Yuni. Kami pun pergi berbarengan.
            Cuaca hari ini cerah, tidak seperti hari-hari kemarin yang diselimuti awan mendung. Aku melihat bekas lahan-lahan yang kosong yang sengaja dibakar. Entah apa yang dipikirkan pemerintah, tapi sepertinya tempat ini akan menjadi semakin panas karena rencana pembangunan gedung-gedung di lahan-lahan kosong itu. Sekolahku memang terletak di pinggir kota yang memang masih sangant banyak lahan kosong. Tapi aku yakin, dalam dua atau tiga tahun kedepan, mungkin daerah ini akan menjadi pusat kota. Bagaimana tidak, sekolahku berada di daerah pusat pelaksanaan Sea Games 2011, Jakabaring, Palembang. Sudah banyak gedung-gedung yang dibangun pemerintah guna sarana dan prasarana Sea Games akan datang.
            Kami pun melewati pom bensin yang tak jauh dari gerbang perumahan OPI. Entah mengapa, Sri seperti ingin mengisi minyak taoi tak dilakukannya. Aku merasakan keraguannya itu. Dari caranya membawa motor dengan perlahan penuh dengan keraguan. Sperti hendak berbelok masuk pom bensin tapi bersikeras untuk melanjutkan perjalanan kami. Aku hanya diam saja. Aku pikir, mungkin Cuma perasaanku saja yang mereka-reka keraguannya.
            Kami pun tiba di lampu merah. Tujuan utama kami Plaju, untuk menitipkan motor Sri di rumah Yuni, setelah itu baru kami akan pergi makan di PS Mall. Tapi tiba-tiba motor Sri mati. Kami pun panik karena lampu sudah hijau.
            “Sar, kyaknya bensinnya habis.”, kata Sri panik. Aku yang kebingungan pun langsung menyuruhnya untuk menepi ke pinggir jalan. Aku menoleh kea rah belakang, mencari Yuni dan Wiwik. Tapi yang ku lihat mobil polisi yang melaju ke arah kami.
            “Duhh. . . ada polisi lagi.”, keluhku bertambah bingung. Tapi ternyata polisi itu hanya lewat di depan kami.
            “Kita menepi ke arah sana aja yukk.”, ajak Sri. Kami pun menyeberangkan motor kami ke sisi jalan sebelah kiri. Lalu kami memarkirkannya.
            “Yuni sama Wiwik mana?”, tanyaku.
            “Mereka sudah duluan.”, jawab Sri cepat.
            “Sar, sms mereka.”, pinta Sri padaku. Aku pun langsung mengambil handphoneku yang ada di dalam saku baju sekolah. Segera saja aku meng-sms Wiwik.
Wik, kmi di Palapa.
Bensin kmi hbis.
Tlong beliin bensin, terus anterin kesini.
Pliss.
Received: Wiwik
Date: 13 Okt 11
            Setelah menunggu lama, aku pun merasakan handphoneku berhgetar di dalam saku bajuku. Aku langsung membaca sms balasan dari Wiwik.
Nah, aku sdah di Halte.
Yuni lagi di jalan ke rumahnya.
Jadi gimana?

Sender: Wiwik
Date: 13 Okt 11
            “Duh gimana nih ri’?”, tanyaku pada Sri.
            “Sms Yuni.”, ususl Sri.
            “Pulsaku habis”, jawabku cepat.
            “Pulsaku habis juga.”, kata Sri. Kami pun terdiam.
            “Sar, kmu tunggu sini, ntar aku ke konter buat beli pulsa.”, kata Sri.
            “Aku aja yang beli pulsa.”, usulku.
            “Okelah.”, jawab Sri. Aku pun menyeberangi jalan untuk mencari konter. Belum lama aku berjalan aku pun menemukan konter yang ada di pinggir jalan itu.
            “Mbak, ada pulsa 3?”, tanyaku.
            “Gak ada dek.”, jawab si Mbak. Aku pun segera meninggalkan konter itu dan segera mencari konter lainnya. Huft, aku sedikit merasa lelah. Aku pun membeli pulsa di konter yang aku temukan selanjutnya, lalu aku segera kembali.
            Setelah mengisi pulsa, Sri pun segera meng-sms Yuni untuk meminta dibelikan bensin. Tapi ternyata Yuni juga sudah berada di halte. Mereka menyarankan agar kami membeli bensin dengan menggunakan kantung. Mereka pikir, dengan begitu kami tidak usah susah payah mendorong motor ke pom bensin. Setelah berpikir lama, aku dan Sri pun memutuskan untuk membeli bensin dengan menggunakan kantung. Kami membeli kantung ukuran 1kg untuk membeli bensin tadi. Kami menempuh jarak kurang lebih satu kilometer untuk sampai di pom bensin dengan berjalan kaki. Aku sungguh merasa senang karena perjalanan kami tidak terasa begitu lama. Kami sudah sampai. Kami berjalan mendekati tempat pengisian bensin. Awalnya aku ragu. Tapi setelah melihat pom bensin itu agak sepi, aku langsung saja mendekati pegawai itu dengan rasa percaya diri.
            “Mas, boleh isi bensin pake kantung?”, tanyaku polos dengan senyum merekah. Ya, sebenarnya senyum itu lebih tepat jika disebut senyum malu. Karena memang sebenarnya aku sungguh merasa malu. Tapi, untuk saat ini, rasa malu itu harus aku buang jauh-jauh demin bensin satu liter yang akan kami beli.
            “Gak bisa, udah peraturan.”, jawabnya dingin yang lalu sibuk dengan pekerjaanya dan tidak mempedulikan keadaan kami. Aku pun langsung bergerak mundur. Aku kesal. Aku lelah. Dan aku pun terduduk tak jauh dari tempat pengisian bensin itu.
            “Hmm, gimana?”, tanyaku pasrah pada Sri.
            “Berarti kita terpaksa mengambil motor dulu.”, jawab Sri juga merasa kesal.
            “Aku capek. Udah jauh-jauh kesini.”, rajukku.
            “Ya mau gimana lagi?”, tanya Sri. Aku pun menyeret kakiku keluar dari pom bensin itu. Rasanya aku ingin marah. Alangkah teganya pegawai itu membiarkan kami seperti ini. Apa yang ada dipikarannya? Apa dia pikir kami ini adalah penjual bensin eceran yang ada di pinggir-pinggir jalan itu? Kami ini pelajar! Tidakkah dia lihat seragam kebanggan yang kami pakai? Dasar tak punya hati!
            Air mataku pun tertetes. Aku menyimpan amarah di dalam hatiku yang membuat kepalaku terasa pusing hingga ku teteskan air mata ini. Kami pun menyetop angkutan umum dan kembali mengambil motor kami. Setelah membayar uang parker. Aku dan Sri langsung mendorong motor itu. Tapi entah mengapa, aku merasa bahagia. Aku melakuakan sesuatu yang belum pernah aku lakuakan. Ya, baru kali ini aku mendorong motor yang kehabisan bensin. Dan rasanya asik sekali. aku mendorong motor itu dengan rasa senang. Sebuah senyum terukir di bibrku. Aku pikir, kapan lagi aku bisa seperti ini? Mungkin suatu saat nanti aku tak akan mendorong motor karena telah meiliki sebuah mobil. Maka dari itu aku sangat menikmati ini.
            Baru seperempat jalan, Sri sudah merasa kelelahan, karena mendorong motor itu, sementara aku hanya membantu di belakangnya, mendorong bodi motor dari arah belakang. Kami pun bergantian. Entah mengapa, aku merasa geli. Beberapa menit yang lali kami melewati jalan ini dengan membawa kantung dan berharap kantung itu bisa terisi penuh oleh bensin. Tapi, saat ini kami melewati jalan ini untuk kedua kalinya dengan mendorong motor. Banyak orang-orang yang memperhatikan kami. Sebagian ada yang menggoda kami. Sebagian lagi mungkin merasa iba. Hahaha, wajar saja jika mereka merasa iba pada cewek cantik yang sedang mendorong motor ini.
            Kami pun tiba di pom bensin yang beberapa menit lalu kami datangi. Cuma bedanya, kali ini kami membawa motor, bukan kantung kosong!
            “Sar, jangan di tempat ma situ ya.”, kata Sri.
            “Aku juga gak mau ngisi di tempat ma situ.”, jawabku karena kekesalan tadi.
            “Kalau saja ada pombensin lain yang tak jauh dari sini, maka aku akan mengisi bensin disana.”, kata Sri emosi.
            Aku hanya diam, aku mengantri di bagian pengisian bensin di sebelah tempat ma situ menjaga. Tapi aku berubah pikiran. Aku langsung mengantri di tempat ma situ menjaga bensinnya.
            “Biarlah rR’ kita disini.”, kataku.
            “Kenapa?”, tanya Sri bingung. Aku tidak menjawab pertanyaan Sri. Lihat saja ma situ. Aku akan segera membalasnya.
            Giliran kami pun tiba. Aku langsung memarkirkan motor itu tepat dihadapan mas itu. Aku langsung membuka tutup tangki dan berbalik menghadap ke arahnya.
            “Full tank!”, kataku dingin. Dia mengeryitkan keningnya. Sepertinya dia ingin memberikan senyum padaku, tapi aku langsung bersikap dingin dan membuang mukaku. Aku tau, dia merasa tak enak hati. Aku merasakan apa yang dia rasakan sekarang. Terlihat jelas dari caranya yang mengisi tangki minyak motor kami.
Lalu aku menyodorkan uang seratus ribu itu ke hadapannya. Uang itu tidak aku genggam, hanya aku jepit dengan menggunakan jari telunjuk dan jari tengahku. Setelah dia selesai mengisi minyak kami. Dia pun mengambil uang yang ada di tanganku dan sepertinya dia melirikku. Tapi aku lagi-lagi bersikap cuek sambil sibek menutup tangki motor kami. Aku pun menaiki motorku, lalu mengambil uang kembalianku tanpa mengucapkan terima kasih sedikitpu. Lalu dengan sinis aku menjalankan motor kami. Hahaha, sungguh aku merasa puas sekarang. Maaf, kali ini aku harus menggunakan kesombonganku. Aku pikir, dia pantas menerima balasan itu karena perlakuannya padaku tadi. Sekarang aku merasa benar-benar senang. Dan kami pun segera menuju ke halte, ke tempat Wiwik dan Yuni menunggu.

********

Sabtu, 15 Oktober 2011

D'Faondsel

Aku melangkah dengan senyum termanisku, ku pandangi sekelilingku, ramai, orang-orang sibuk mencari kelas mereka masing-masing. Kulihat di tengah lapangan sana, anak-anak kelas sepuluh sedang apel mendengarkan pengarahan dari Pak Iskandar, Wakil Humas sekolah kami. Awalnya aku telah memikirkan bangku strategis yang akan aku tempati, bangku nomor 2, di barisan nomor 2 dari pintu. Tapi, bukan berarti aku suka nomor 2, aku hanya berpikir mungkin aku akan senang jika duduk di posisi itu. Bersama Sri, aku berjalan menyusuri koridor menuju Hall sekolah. Disana, orang-orang sudah hadir untuk menyesaki mading, melihat di kelas mana mereka akn tinggal selama sati tahun. Aku segera mencoba menerobos kerumunan orang-orang itu. Dengan jari telunjukku, ku sapu semua nama-nama yang tertera di mading itu. XI IPA 1. . . ah tidak ada. Aku meneruskan pencarianku ke kelas XI IPA 2. . . Rini Sartika. . . Sari Pramesela. . . Sartini Nuha Afifah. Yap, ini dia namaku. Aku akan tinggal di kelas XI IPA 2.

“Perhatian, bagi seluruh siswa kelas sebelas dan dua belas, harap segera membentuk barisan apel sekarang. Sekali lagi, bagi seluruh siswa kelas sebelas dan duabelas, harap segera membentuk barisan apel sekarang. Terima Kasih.”, ucap salah satu guru melalui mic sekolah yang suaranya terdengar ke seluruh penjuru sekolah. Aku segera menuju lapangan dan membentuk barisan apel sesuai kelas yang telah ditentukan. Disana aku melihat wajah-wajah baru. Wajah-wajah asing yang belum pernah aku lihat. Ya, aku memang belum mengenal mereka seluruhnya. Hanya ada segerintil teman-teman yang ku kenal disitu.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.”, salam Pak Iskandar yang terdengar tegas dan berwibawa.

“Walaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh.”, jawab kami serentak.

“Alhamdulillahirobbil alamin, asholatu wassalamu ala asrofil anbiya iwalmursalin, wa’ala alihi washobbihi ajma’in. Apa kabar anakku semuanya?”, tanya Pak Iskandar.

“Alhamdulillah. . .”, kami mengepalkan tangan kanan kami ke dada kiri. “Luar biasa. . .”, kami memukul pelan dada kiri kami satu kali. “Allahu Akbar!”, kami mengangkat kepalan tangan kami ke atas bagaikan menonton pertandingan sepak bola dari tim favorit yang sedang mencetak goal pertama.

“Alhamdulliah, puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena pada pagi yang cerah ini, kita masih diberikan kesempatan untuk dapat terus menghirup udara segar yang diberikan secara cuma-cuma ini. Shalawat bertangkaikan salam semoga selalu tercurahkan kepada suri tauladan kita, Nabi besar Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan kita sebagai pengikutnya yang insya Allah terus istiqamah di jalan-Nya hingga akhir zaman. Amin.”

“Anak-anakku yang selalu bapak banggakan, Bapak akan memberikan sedikit pen garahan mengenai pembagian kelas ini.”, sambung Pak Iskandar. Hmm, jujur saja kawan, baru selesai pembukaan, aku sudah merasa bosan untuk berdiri di lapangan ini. Aku pun mencoba memainkan genangan air yang ada di ujung kakiku. Ku hentakkan genangan air itu dengan pelan, tapi tetap saja menimbulakan percikan kesana dan kemari.

“Sar!”, tegur Wiwik sambil mengernyitkan kening karena ulahku yang membuat roknya sedikit basah. Aku pun tersenyum nakal dan mengenghentikan kakiku. Aku kembali menyimak pembicaraan Pak Iskandar.

“Nah, di ujung sana itu kelas XII IPA 2, di sebelah kirinya adalah kelas XII IPA 3. . .”, kata Pak Iskandar menjelaskan. Kami semua menoleh ke belakang, mengikuti arah telunjuk Pak Iskandar.

“Lalu itu kelas XI IPA 1, XI IPA 2 di ujung koridor, kelas XI IPA 3 berada si sebelahnya, lalu kelas XI IPS 1 dan XI IPS 2 disebelahnya lagi. . .”, sambung Pak Iskandar sambil terus menunjuk ke arah kelas-kelas yang beliau sebutkan. Ah, menyusahkan saja. Kenapa nama-nama kelas tidak ditulis di kertas selembar saja, lalu di tempelkan pada masing-masing kelas sesuai yang sudah ditentukan? Bukankah itu tidak merepotkan dan lebih efektif?

“Dan yang terakhir, kelas XII IPA 1.”, kata Pak Iskandar yang dari tadi mengarahkan. Kami semua menoleh ke arah kiri, masih mengikuti arah jari telunjuk beliau. Aku benar-benar merasa bosan sekarang. Setelah Pak Iskandar menutup pengarahannya, kami segera berhamburan ke kelas masing-masing.
Aku berjalan ke arah kelas yang sudah di tunjuk Pak Iskandar tadi, XI IPA 2, di ujung koridor. Setelah sampai, aku terkejut melihat kelas yang akan kami tinggali selama satu tahun ke depan. Hah? Bukankah ini bekas ruang guru?. Aku menggeleng-gelengkan kepala. Ruang itu masih terkunci rapat. Ku pandangi teras ruangan itu, kotor dan berantakan. Meja dan kursi ada dimana-mana. Buku-buku berhamburan. Aku mencoba menarik nafas. Aku pun berjalan ke arah jendela “kelas” –jika ini pantas disebut sebuah kelas-, ku intip bagian dalamnya. Astaghfirullah, lebih parah dari yang aku duga, lebih kotor dan lebih berantakan. Apa-apaan ini? Kenapa kami harus dapat ruang ini?. Aku menoleh ke arah kanan, ku lihat disana, Ibu Radiana datang membawa sebuah kunci, bak pahlawan yang akan menyelamatkan kekelaman hidup kami, beliau mulai membuka pintu.

“Nah, ini kelas kalian, jadi kalian harus membersihkannya. Meja-meja itu kalian angkat saja keluar kelas, lalu kalian sapu lantainya dan pel sekalian!”, perintah Ibu Radiana. Aku yang tak bersemangat pun menyeret kakiku untuk masuk ke dalam kelas. Satu per satu, teman-temanku pun mulai ikut masuk. Tapi, belum lama aku berada di kelas itu, nafasku sesak. Kelas ini benar-benar berdebu, aku butuh oksigen. Aku pun langsung keluar kelas, mencari udara segar. Aku memakai dasi pramuka untuk menutup hidungku –entah milik siapa yang aku pakai saat itu-, lalu aku pun kembali masuk ke dalam kelas.
Kami mulai mengangkat meja dan barang-barang yang tidak berguna ke luar kelas. Mulai dari buku-buku yang entah milik siapa, sampai ke meja-meja yang ada disana. Kami pun mulai menyapu dan mengepel ruangan sehingga lantainya terlihat sedikit lebih mengkilap. Ruangan ini akan menjadi kelas yang aneh jika digunakan untuk belajar, karena di ujung sana, ada dua ruangan kecil yang tak lain adalah WC. Tapi, kehadiran WC itu bukan saja menjadikan kelas kami kelas yang aneh, kelas kami juga terlihat elit karena punya WC pribadi. Dan lebih elit lagi, kelas kami punya banyak stopkontak yang tentunya kelas lain tak punya.

Aku mulai merasa lelah karena mengepel ruangan ini sendirian. Aku kesal. Seharusnya sekolah menyediakan ruang belajar untuk kami, bukan kami yang mengurus sendiri. Sekolah mana yang menyusahkan muridnya seperti ini kalau bukan sekolah kami. Tapi kawan, disinilah yang aku sukai, kelas XI IPA 2 benar-benar dimulai dari nol, bukan seperti kelas-kelas instan lainya.
Kami mulai mencari meja dan kursi untuk kami belajar. Kami pun menyusunnya hingga ruangan ini lebih layak disebut sebagai ruang kelas. Alhasil, ruang yang tadinya sangat tak lazim untuk di pandang sebagai kelas, kami sulap sedemikian rupa hingga menjadi layak untuk ditempati. Walau aku gagal mendapatkan bangku impianku seperti yang aku bayangkan pada awalanya, tak jadi masalah bagiku mendapatkan bangku nomor tiga pada baris ketiga dari pintu. Aku duduk sebangku dengan Sri, teman sekelasku di kelas X. Wiwik dan Tiara duduk di depan kami. Setelah kami semua masuk kelas, ku pandangi lagi teman-teman sekelasku. Aku pun sadar, jumlah laki-laki di kelasku hanya 8 orang dari 36 siswa. Aku menggeleng-gelengkan kepala. Dunia benar-benar akan kiamat, jumlah laki2 dan perempuan sudah tak imbang.

Dan kawan, disinilah, di XI IPA 2 yang akhirnya aku beri nama ‘d.faondsel’ (the family of second sains eleven), aku belajar banyak tentang kehidupan. Aku belajar sebuah ketegaran dan keteguhan hati, aku juga belajar membuang rasa egois, aku belajar untuk mengerti satu sama lain, aku mempelajari arti sebuah persahabatan, dan aku juga belajar bahwa cinta tak hanya tersirat pada kisah dua insane manusia. Kawan, di d.faondsel, aku menemukan inspirasiku, dan disinilah aku berani untuk bermimpi. Ingin ku ceritakan semua padamu apa yg telah terjadi di d.faondsel. Tapi ini hanyalah sebuah cerpen yang hanya mengetengahkan satu permasalahan. Ini hanyalah sebagian kisah hidupku yang ingin kuceritakan pada dunia.